gerr

Menelusuri Jejak Gereja Tertua Margoyudan, Solo

Gereja Kristen Margoyudan Solo

Sista harus mengunjungi tempat yang satu ini untuk mengetahui gereja Jawa tertua yang ada di Surakarta. Gereja Margoyudan adalah saksi bisu, pada abad 18, umat kristen di Solo melakukan kebaktian. Setelah mendapat izin dari Gubernur Jenderal Belanda, Raja Kusunan Surakarta, Sri Susuhan dari Sri Paduka Mangkunegoro, para jemaat mulai meramaikan gereja. Seiring dengan hal tersebut sist, jemaat yang awalnya hanya 20 orang, semakin bertambah. Pada tahun 1915 menajdi 171 orang.


Nah, untuk sejarah dari gereja Margoyudan ini sist, dulu seorang belanda yang beragama kristen, stegerhoek, membangun dan memperkenalkan sebuah gereja menampung para jemaat melakukan kebaktian. Setelah mendapat izin dari Gubernur Jenderal Belanda, Raja Kusunanan Surakarta, Sri Susuhunan dan Sri Paduka Mangkunegoro, para jemaat mulai meramaikan gereja.
Dari situ lah cikal bakal Gereja Kristen Jawa di Surakarta. Jumlah jemaat Kristen pun semakin bertambah hlo sist. Jika pada tahun awal perkembangan Kristen, 1895, hanya ada sekitar 20 orang. Kemudian pada tahun 1915 bertambah menjadi 171. Sekolah Kristen yang waktu itu menjadi tempat dilakukannya pemberitaan Injil pun sudah tidak mencukupi. Kemudian Stegerhoek sangat ingin memberitakan Injil tetapi tak dapat berbahasa Jawa.
Dengan menggunakan pendekatan kultural serta gaya bangunan gereja, Stegerhoek mencoba melakukan Penyebaran Kitab Injil.Dengan sejarahnya itulah, GKJ Margoyudan yang terletak di Jalan Monginsidi No 44 Solo.

Yang lebih menarik lagi sist, meskipun stegerhoek adalah orang belanda, bangunan pertukangan adalah menggunakan arsitektural gaya jawa. Bentuknya joglo dan nuansa yang ada di dalam gereja kental dengan nuansa etnik jawa. Hal tersebut dapat dilihat dari adanya kursi rotan yang ada di gereja, serta jendela yang ada di samping kanan dan kiri gereja. Ornamen kaca juga terlihat gunungan yang menjadi simbol penting dalam budaya Jawa, digunakan dalam wayang kulit atau arak-arakan keraton.

Tulisan yang menempel di altar, tulisan jawa, tertulis dari Alkitab yang di Bahasa Jawakan tulisan ini masih dalam bentuk aksara jawa. kemudian untuk
kebaktian juga menggunakan pengantar dengan Bahasa Jawa Krama Inggil lagi… ^_^
Nah, gimana makin penasaran dengan bentuk gereja yang bisa dikatakan bersejarah ini ?